Pertanyaan klasik yang selalu muncul di tengah masyarakat adalah: Di era teknologi secanggih 2026, mengapa kita belum bisa sepakat soal tanggal?
Benturan Dua Metode: Hisab vs Rukyat
Akar perbedaannya masih terletak pada dua metode interpretasi dalil agama yang berbeda:
- Metode Hisab (Perhitungan Astronomi): Digunakan oleh Muhammadiyah. Dengan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, puasa dimulai segera setelah kalkulasi menunjukkan bulan baru telah lahir di atas ufuk, meskipun belum bisa dilihat dengan mata telanjang. Secara matematis, posisi bulan sudah "positif", sehingga Rabu sudah dianggap 1 Ramadan.
- Metode Rukyat (Pengamatan Langsung): Digunakan oleh Pemerintah (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka berpegang pada kriteria MABIMS yang mensyaratkan hilal harus memiliki ketinggian minimal 3° dan elongasi 6,4° agar bisa dianggap sah secara syar'i. Karena pada Selasa sore posisi hilal masih di bawah kriteria tersebut, maka bulan Syaban digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Meskipun teknologi teleskop dan citra satelit pada tahun 2026 sudah sangat maju, kendala alam seperti mendung tebal dan polusi cahaya di kota-kota besar tetap menjadi tantangan bagi para perukyat di lapangan. Hal ini sering kali membuat hasil observasi fisik tidak sinkron dengan perhitungan matematis murni.
Harapan Kalender Islam Global
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam keterangannya menyebutkan bahwa pemerintah terus mengupayakan adanya Kalender Islam Global.
"Perbedaan ini adalah rahmat, namun kita tetap menuju pada satu kalender unifikasi agar umat memiliki kepastian jangka panjang," ujarnya.Pesan Persatuan
Meskipun memulai puasa di hari yang berbeda, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar perbedaan ini tidak menjadi sekat sosial. Di tengah tantangan ekonomi dan isu sosial tahun 2026, semangat berbagi dan toleransi di meja makan saat berbuka justru harus menjadi penguat kohesi bangsa.
Segenap Keluarga CSSMoRA Universitas Islam Makassar mengajak agar saling menghormati dengan sebuah perbedaan dan jadikan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini sebagai momentum untuk memperbaiki sikap, serta meningkatkan kualitas diri, baik secara spritual maupun intelektual.
Penulis: Abdul Aziz Maulana Rachman

0 Komentar