“Korupsi
paling menyakitkan adalah ketika yang menjadi korban bahkan tidak mampu
berteriak.”
Dugaan
korupsi pengelolaan keuangan Kebun Binatang Surabaya (KBS) dengan nilai
kerugian sekitar Rp10,2 miliar benar-benar membuat hati terasa sesak. Salah
satu anggaran yang diduga disalahgunakan adalah anggaran pakan satwa, yang
seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan perawatan hewan-hewan yang
ada di sana.
Dan yang
paling menyakitkan adalah ketika dampak dari dugaan penyalahgunaan anggaran
tersebut harus dirasakan oleh makhluk-makhluk yang sama sekali tidak tahu
apa-apa.
Mereka
tidak tahu tentang uang.
Mereka
tidak tahu tentang jabatan.
Mereka
tidak tahu tentang korupsi.
Mereka hanya
tahu bagaimana bertahan hidup.
Ketika
asupan makanan dan perawatan tidak terpenuhi dengan baik, kondisi satwa dapat
memburuk. Dalam pemberitaan mengenai kasus ini, kondisi sejumlah satwa KBS
disebut terdampak, termasuk adanya satwa yang kurus dan kurang terawat.
Bahkan
hewan buas sekalipun tidak berdaya ketika manusianya rakus.
Sungguh
sedih melihat kondisi hewan-hewan di sana melalui video yang beredar luas.
Mereka yang tidak pernah meminta apa pun kepada kita justru harus menjadi
korban dari keserakahan manusia.
Mereka
tidak bisa mengeluh seperti kita.
Mereka
tidak bisa berbicara untuk membela diri.
Mereka
bahkan tidak bisa meminta, “Tolong beri kami makan.”
Mereka
hanya bisa diam, menahan lapar, menahan sakit, dan bertahan hidup dengan
kondisi yang ada.
Dan di situlah bagian yang paling menyakitkan.
Bagaimana
mungkin sesuatu yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka
justru diduga disalahgunakan untuk kepentingan pribadi?
Jujur,
melihat pemberitaan dan kondisi satwa yang beredar membuat hati rasanya sakit
sekali.
Apalagi
ketika melihat momen penangkapan tersangka yang masih sempat tersenyum. Entah
apa yang ada di balik senyum tersebut, tetapi sebagai manusia yang melihatnya,
rasanya sulit untuk tidak merasa kesal.
Bayangkan...
Selama
bertahun-tahun, sejak 2016 hingga 2024, ada dugaan penyalahgunaan kewenangan
yang kini sedang diproses secara hukum. Selama itu pula, ada makhluk-makhluk
yang bergantung pada manusia untuk mendapatkan makanan dan perawatan.
Mereka
tidak punya pilihan.
Mereka
tidak bisa pergi mencari keadilan.
Mereka
tidak bisa melaporkan ketika hak mereka tidak diberikan.
Mereka
hanya bergantung kepada manusia.
Dan ketika
manusia yang seharusnya menjaga justru diduga menyalahgunakan kepercayaan
tersebut, siapa yang paling dirugikan?
Bukan hanya
negara.
Bukan hanya
lembaga.
Tetapi juga
makhluk-makhluk tak berdosa yang tidak pernah tahu apa-apa tentang keserakahan
manusia.
Kejam.
Sungguh kejam.
Bukan
karena mereka adalah hewan buas sehingga mereka pantas diperlakukan
semena-mena. Justru karena mereka tidak mampu berbicara, kitalah yang
seharusnya menjadi suara bagi mereka.
Mereka juga
makhluk hidup.
Mereka juga
bisa lapar.
Mereka juga
bisa sakit.
Dan mereka
juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak.
Semoga
kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa jabatan adalah amanah, uang
bukanlah milik pribadi, dan setiap keputusan yang kita ambil bisa berdampak
pada kehidupan banyak makhluk.
Karena pada
akhirnya, keserakahan manusia tidak hanya bisa merugikan manusia lainnya.
Bahkan makhluk yang tidak mampu berkata-kata pun bisa menjadi korbannya.
Penulis: Arunika Pertiwi
0 Komentar