Beberapa
waktu lalu, sebuah video muncul di FYP TikTok-ku. Video itu memperlihatkan
seorang bapak anggota Satlinmas Semarang yang tersenyum begitu bahagia saat
menerima gajinya.
Aku tidak
tahu kenapa, tetapi melihat senyum beliau membuatku terharu.
Yang
semakin membuatku terenyuh adalah ketika tahu bahwa gaji yang beliau terima
hanya sebesar Rp300.000. Bukan Rp300 juta, tetapi kebahagiaan yang terpancar
dari wajahnya seolah jauh lebih besar daripada nominal yang beliau terima.
Dari senyum
beliau, aku kembali belajar tentang arti rasa syukur.
Ternyata,
merasa cukup bukan selalu tentang seberapa banyak yang kita punya. Bukan
tentang besar kecilnya nominal yang kita terima, tetapi tentang bagaimana kita
memandang dan mensyukuri setiap rezeki yang Tuhan berikan.
Mungkin
bagi sebagian orang, Rp300.000 bukanlah jumlah yang besar. Tetapi bagi beliau,
mungkin itu adalah rezeki yang sudah dinanti-nantikan selama beberapa bulan.
Dan ketika akhirnya menerima, yang terlihat bukan keluhan karena jumlahnya
sedikit, melainkan senyum bahagia dan rasa syukur yang begitu tulus.
Senyuman
sederhana itu berhasil membuatku menangis. Bukan karena nominalnya, tetapi
karena melihat betapa bahagianya seseorang atas sesuatu yang mungkin bagi orang
lain dianggap kecil.
Kadang kita
terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sampai lupa melihat begitu
banyak hal yang sebenarnya sudah Tuhan berikan.
Dari
beliau, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari banyaknya harta
yang kita punya. Terkadang, kebahagiaan justru lahir dari hati yang mampu
menerima, merasa cukup, dan bersyukur atas apa yang telah Tuhan titipkan.
Semoga kita
semua bisa belajar dari senyum beliau. Belajar untuk lebih menghargai setiap
rezeki, sekecil apa pun itu, dan tidak pernah lupa bersyukur.
Penulis: Arunika Pertiwi
0 Komentar