Sekitar dua
hari yang lalu, aku membuka media sosial, tepatnya aplikasi hitam (TikTok). Di
sana, aku menemukan seorang mahasiswi dari salah satu kampus Islam yang tidak
perlu aku sebutkan nama kampusnya.
Saat itu,
dia sedang melakukan live bersama tiga orang teman laki-lakinya sambil
mengerjakan tugas. Sesekali, dia juga menjawab satu per satu pertanyaan yang
muncul di kolom komentar.
Di dalam
live tersebut, salah satu temannya merupakan seorang laki-laki yang berasal
dari luar negeri dan memiliki warna kulit yang gelap.
Tiba-tiba,
mahasiswi tersebut mengatakan sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi,
“Hitamkan, kelihatan di gigi saja.”
Aku ikut
merasa sedih ketika mendengarnya. Terlebih lagi, laki-laki tersebut tidak
memahami arti atau maksud dari perkataan temannya, sehingga dia hanya tersenyum
tanpa mengetahui bahwa dirinya sedang dijadikan bahan candaan.
Sementara
itu, mahasiswi tersebut justru tertawa seolah perkataan itu hanyalah sebuah
candaan biasa.
Sungguh
miris. Sangat miris.
Bahkan
warna kulit seseorang pun masih bisa menjadi bahan candaan.
Sebagai
salah satu warga negara Indonesia, aku merasa malu sekaligus prihatin melihat
hal seperti ini. Bukankah sebagai warga negara yang baik, kita seharusnya
memahami dan menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam semboyan bangsa kita,
“Bhinneka Tunggal Ika” — berbeda-beda tetapi tetap satu?
Perbedaan
seharusnya bukan menjadi alasan untuk merendahkan atau menjadikan seseorang
sebagai bahan lelucon. Justru perbedaan itulah yang seharusnya menjadi salah
satu bentuk kebersamaan kita dalam belajar menghargai satu sama lain.
Berkulit
hitam atau putih, tinggi atau pendek, berhidung mancung atau pesek, dan
berbagai perbedaan lainnya seharusnya bukan menjadi pemisah di antara kita.
Karena pada
akhirnya, kita semua sama-sama manusia.
Perbedaan
bukanlah sesuatu yang harus ditertawakan. Perbedaan adalah sesuatu yang
seharusnya kita hargai.
Kita
Indonesia.
Sudah
sepatutnya kita menjaga nilai-nilai yang diajarkan oleh semboyan bangsa kita:
Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi tetap satu.
Penulis: Arunika Pertiwi
0 Komentar