“Maaf, mereka nggak kuliah.”
Salah satu
kalimat yang berhasil keluar dari mulut seorang mahasiswi yang ikut
berdemonstrasi waktu itu. Diucapkan dengan senyum bangga, seolah-olah perkataan
tersebut adalah sesuatu yang paling tepat dan benar.
Mbak, kamu
lupa ingatan atau pura-pura lupa?
Ada banyak
orang di luar sana yang rela mengubur mimpinya untuk masuk perguruan tinggi
demi membantu orang tua. Ada yang terpaksa mengesampingkan keinginannya untuk
mengenakan toga karena harus memilih jalan lain untuk bertahan hidup.
Bahkan ada
yang memilih mengenakan seragam loreng dan cokelat untuk mengabdi kepada
negeri, bukan toga untuk berfoto.
Mbak, ingat
ya...
Pendidikan
tinggi tidak selalu menjamin seseorang menjadi manusia yang benar-benar
terdidik. Pengetahuan memang bisa diasah menjadi lebih tajam, tetapi jangan
lupa bahwa ada adab yang juga harus dijaga.
Jangan
terlalu angkuh menjadi manusia hanya karena memiliki kesempatan yang tidak
semua orang miliki. Karena di luar sana, banyak orang yang mungkin sangat ingin
merasakan berada di posisi yang kamu jalani sekarang.
Yang ingin
aku tanyakan, memangnya kenapa kalau mereka tidak kuliah?
Apakah
harga diri dan martabat seseorang akan jatuh hanya karena mereka tidak memiliki
kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi?
Apakah
seseorang akan menjadi lebih rendah hanya karena tidak berkuliah?
Dan apakah
mereka yang berkuliah sudah pasti lebih terdidik dalam cara berpikir, bersikap,
dan memperlakukan orang lain?
Kita boleh
meneriakkan suara dengan lantang. Kita boleh menyuarakan hak-hak kita. Tidak
ada yang melarang.
Tetapi
jangan lupa untuk tetap menjaga adab, etika, dan moral sebagai seseorang yang
sedang menempuh pendidikan dan kelak akan disebut sebagai orang yang
berpendidikan.
Karena
menjadi mahasiswa bukan hanya tentang seberapa tinggi pendidikan yang sedang
kita tempuh, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan pengetahuan
tersebut untuk menghargai sesama.
Ironisnya,
mereka yang tidak sempat duduk di bangku kuliah justru bisa jadi adalah
orang-orang yang menjaga keamanan negeri, bekerja keras untuk keluarganya, dan
mengabdikan hidupnya untuk orang lain.
Sementara
di sisi lain, ada yang justru sibuk mengukur harga diri manusia hanya dari
gelar yang dimilikinya.
Mungkin
benar, pendidikan tinggi dapat menambah pengetahuan.
Namun
rupanya, pengetahuan dan gelar tidak selalu berjalan beriringan dengan adab.
Karena pada
akhirnya, yang membuat seseorang terdidik bukan hanya apa yang ada di
kepalanya, tetapi juga bagaimana ia menggunakan pengetahuannya untuk menghargai
manusia lainnya.
Penulis: Arunika Pertiwi
0 Komentar