"Menghapus Peringkat, Menjaga Mental atau Mematikan Motivasi?"

 

Setiap tahun, SD, SMP, dan SMA akan mengadakan ujian semester. Dalam menghadapi ujian tersebut, ada anak-anak yang belajar sekeras mungkin agar nilainya tetap bagus dan posisinya di kelas tetap aman. Namun, tidak sedikit juga yang memilih bersantai dengan dalih, “Pasti naik kelas.

Hingga akhirnya tiba saat pengumuman juara kelas.

Ada anak-anak yang sudah berusaha keras, belajar dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mempertahankan nilainya, tetapi kini tidak bisa merasakan hasil dari kerja keras tersebut karena peringkat 1–3 dihapus.

Alasannya agar mental siswa-siswi lain yang belum mendapatkan posisi tersebut tidak terganggu.

Tapi, bukankah kita perlu melihatnya dari sisi yang lain juga?

Justru menurutku, peringkat kelas tidak perlu dihapus. Anak-anak yang berhasil meraih peringkat tersebut berhak mendapatkan apresiasi atas usaha dan kerja keras mereka. Sementara bagi anak-anak yang belum berhasil, peringkat tersebut bisa menjadi motivasi untuk belajar lebih giat dan berusaha mendapatkan hasil yang lebih baik.

Karena menurutku, ketika peringkat dihapus dengan alasan untuk menjaga mental anak-anak yang belum mendapatkannya, justru ada kemungkinan mental anak-anak yang selama ini sudah berusaha keras ikut terganggu.

Mereka sudah belajar, sudah berusaha mempertahankan nilai, dan sudah berjuang untuk mendapatkan posisi tersebut. Ketika hasil dari kerja keras itu tidak lagi diberi apresiasi, bukankah bisa muncul rasa kecewa dan tidak adil?

Menurutku, yang perlu dilakukan bukan menghapus peringkatnya, tetapi mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menerima hasil dengan bijak.

Anak yang mendapat peringkat perlu diajarkan untuk tidak sombong dan tetap menghargai teman-temannya. Sementara anak yang belum mendapat peringkat perlu diberi pemahaman bahwa belum berhasil bukan berarti tidak mampu. Mereka masih punya kesempatan untuk belajar dan mencoba lagi.

Karena pendidikan bukan hanya tentang bagaimana menjaga perasaan anak agar tidak kecewa, tetapi juga tentang bagaimana mengajarkan mereka menghadapi kenyataan, menerima hasil, menghargai keberhasilan orang lain, dan menjadikan kegagalan sebagai motivasi untuk berkembang.

Dan satu hal lagi...Bagaimana dengan anak-anak yang memang sengaja tidak belajar karena merasa, “Toh pasti naik kelas”?

Kalau peringkat dihapus, bukankah bisa saja motivasi untuk belajar justru semakin berkurang?

Menurutku, berikanlah penghargaan kepada mereka yang sudah berusaha keras, tanpa harus merendahkan mereka yang belum berhasil.

Bukan peringkatnya yang harus dihilangkan, tetapi cara kita dalam menyikapi peringkat itulah yang perlu diperbaiki.

Karena anak-anak yang berprestasi juga berhak merasa bangga atas hasil kerja kerasnya. Dan anak-anak yang belum berhasil juga tetap berhak mendapatkan dukungan agar mau berusaha lebih baik lagi.



Penulis: Arunika Pertiwi


Posting Komentar

0 Komentar