Pulang ke Mana?


"Kamu kalau lagi ada masalah larinya ke mana sih?"

Aku tidak lari. Aku menghadapi masalah itu. Kalau terluka, ya aku mengobatinya sendiri. Aku memeluk lukaku sendiri, memeluk ketakutanku sendiri, dan memeluk tangisku sendiri.

Ragaku memang terlihat baik-baik saja, tetapi tidak dengan jiwaku. Jiwaku seakan melayang jauh ke udara, meninggalkan ragaku yang masih berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Orang-orang melihatku baik-baik saja, padahal di dalam diriku ada banyak hal yang perlahan runtuh tanpa suara.

Aku takut. Aku gelisah. Aku tidak tahu harus pergi ke mana.

Aku punya rumah, tetapi aku tidak benar-benar memiliki rumah untuk pulang. Saat takut, aku harus menghadapinya sendiri. Saat sedih, aku juga harus melewatinya sendiri. Aku terbiasa dibiarkan sendirian bersama segala hal yang tidak mampu kujelaskan kepada siapa pun.

Kadang aku bingung, rumah itu tepatnya seperti apa?

Apakah rumah hanya berbentuk bangunan kokoh dengan dinding, pintu, dan atap yang melindungi penghuninya? Ataukah rumah bisa berbentuk hal lain? Bisa jadi sebuah pelukan, sepasang telinga yang mau mendengarkan, atau seseorang yang tetap tinggal ketika dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Karena sejauh ini, aku belum menemukan rumah seperti itu.

Aku belum menemukan tempat yang membuatku merasa aman untuk meletakkan segala lelah dan takut yang selama ini kupikul sendirian.

Kala aku senang, aku adalah rumah bagi orang lain. Aku mendengarkan cerita mereka, menemani tangis mereka, dan menguatkan mereka saat mereka merasa tidak baik-baik saja.

Namun sebaliknya, kala aku sedih, takut, bingung, atau terluka, aku tidak punya rumah untuk kembali.

Lukaku harus kuurus sendiri sampai sembuh. Tak peduli seberapa bengkak, seberapa dalam, atau seberapa sakit luka itu, aku harus merawatnya sendiri. Saat rasa sakit itu datang, aku hanya bisa menangis diam-diam tanpa memperlihatkannya kepada siapa pun.

Sebab entah mengapa, aku selalu merasa bahwa air mataku adalah sesuatu yang harus kusimpan rapat-rapat.

Aku pernah berharap semesta menghadirkan sebuah rumah untukku. Sebuah tempat untuk beristirahat sejenak. Tempat untuk melepaskan segala beban tanpa takut dihakimi. Tempat untuk berkata, "Aku lelah," tanpa harus berpura-pura kuat setelahnya.

Namun semesta seolah tidak melihat tangisku.

Ia membiarkanku duduk sendiri, mengobati luka yang terus kupeluk sambil menunggu waktu menyembuhkannya.

Hingga pada suatu malam, di antara rasa takut dan kesepian yang tak kunjung usai, aku bergumam lirih kepada diriku sendiri,

"Kapan aku bisa punya rumah?"

"Aku ingin seperti anak-anak lain seusiaku. Punya rumah yang mungkin tidak mewah, tetapi penuh kehangatan. Rumah yang membuatku merasa diterima, bahkan saat aku sedang hancur-hancurnya."

"Kapan?"

Lirihku sembari mengobati lukaku.

Dan sampai hari itu tiba, aku masih duduk di sini, menjadi rumah bagi banyak orang, sambil diam-diam berharap suatu saat nanti aku juga menemukan rumah untuk diriku sendiri.


Penulis: Opalina Avicenna

 

Posting Komentar

0 Komentar